Info News

Ironi Pasien Kanker yang Gagal Berobat Alternatif

kanker payudara, kanker payudara stadium 4, kanker payudara stadium 2, kanker payudara stadium 3, kanker payudara pdf, kanker payudara stadium 1, kanker payudara pada pria, kanker payudara adalah,, kanker payudara di indonesia, kanker payudara stadium 4 bisa sembuh, kanker payudara stadium awal, bahaya kanker payudara,bahaya,kanker payudara yang sudah pecah, bahaya kanker payudara pada wanita, bahaya kanker payudara stadium 4, bahaya, kanker payudara bagi ibu menyusui, bahaya kanker payudara stadium 3, bahaya kanker payudara stadium 2, bahaya kanker payudara pada ibu menyusui, bahaya kanker payudara pada pria, bahaya kanker payudara saat hamil, bahaya kanker payudara bagi ibu hamil,

Berita Seputar Kanker Payudara - Seorang wanita yang berusia 43 tahun memilih untuk menjalani sebuah pengobatan tradisional daripada tindakan medis saat didiagnosis kanker payudara stadium 3B pada tahun 2008. Tidak disangka, hal ini menjadi sebuah petaka dan membuat dirinya harus mengalami suatu kondisi yang kian memburuk. Dan salah satunya yaitu ia harus mengalami lepasnya puting payudara.

"Pada 2008, wanita yang disembunyikan identitasnya itu melakukan pemeriksaan fertilisasi. Saat itu, dia diberitahu ada benjolan di payudara kanannya," ucap Dr. Santi Gultom.

Baca juga : Kanker Payudara Renggut Nyawa Pengantin yang Baru 18 Jam Nikah

Setelah didiagnosis, wanita yang berinisial A tersebut itu dirujuk ke Rumah Sakit Kanker (RSK) Dharmais, Jakarta. Setelah ia melakukan biopsi, dokter mengatakan bahwa si nyonya A tersebut terkena kanker payudara dengan stadium 3B. Dokter menyarankan untuk melakukan kemoterapi, radiasi dan juga operasi dengan biaya Rp.80 juta rupiah.

"Akibat keterbatasan biaya dan gagal mengurus kartu gakin (keluarga miskin), dia memilih pengobatan herbal. Saat itu, dia memilih pengobatan herbal di Cisarua dan diberi daun-daunan untuk ditempel di payudara," lanjut kata Dr. Santi.

Pengobatan Herbal

Dr. Santi Gultom menjelaskan bahwa selain dedaunan untuk ditempel, wanita berinisial A tersebut juga diberikan daun-daunan untuk diminum. Daun tersebut itu terdiri dari daun sirsak, sirih merah dan juga kulit manggis. Ironisnya, saat si nyonya A menjalani pengobatan herbal tersebut, namun benjolan pada payudaranya justru semakin membesar dan bahkan memerah hanya dalam beberapa minggu.

"Tak hanya itu, dalam beberapa bulan benjolannya terus pecah. Akhirnya dia memutuskan berhenti dan mencari pengobatan lain," ujar Dr. Santi.

Setelah gagal menjalani sebuah pengobatan alternatif di Cisarua, wanita atau nyonya A tersebut mencoba peruntungan pada pengobatan alternatif di kawasan Kelapa Gading. Disana, ia mendapatkan ramuan obat herbal yang digodog (direbus) dengan dosis tiga bungkus perhari.

"Awalnya sehari tiga bungkus, lalu meningkat menjadi lima bungkus, naik lagi menjadi sepuluh bungkus hingga terakhir mencapai tiga puluh bungkus perhari," kata Dr. Santi.

Keluar Darah dan Nanah hingga Puting Copot

Setelah nyonya A meminum ramuan godog nan pahit tersebut, bukannya kesembuhan yang ia dapatkan, justru payudaranya kian memburuk. Tidak hanya itu saja, payudara si nyonya A juga mengeluarkan darah dan nanah.

"Untuk mengatasinya, dia mengonsumsi bermacam-macam jus, antara lain jus lidah buaya, melon dan susu. Tapi yang didapatkan justru payudaranya semakin memburuk, puting susunya lepas. Tak hanya puting, bagian benjolannya pun satu persatu lepas dengan sendirinya," lanjut kata Dr. Santi.

Yang lebih ironisnya lagi, terapi herbal yang menanganinya itu justru mengatakan hal burung yang dialaminya itu merupakan sebuah proses menuju kesembuhan. Lebih parahnya lagi, nyonya A tersebut diminta untuk bersabar hingga dua tahun.

"Setelah dua tahun, luka payudara tersebut mengering. Namun, masalah lain justru dirasakan sama dia. Perutnya membesar, susah bernapas dan tidak bisa berjalan," ucap sang Dr. Santi.

Untungnya saat si nyonya A disarankan kembali untuk berobat ke dokter, ia menurutinya. Hal itu berbarengan dengan peluncuran program 'Jaminan Kesehatan Nasional' JKN tahun 2013. Sejak saat itulah si nyonya A berhasil ditangani dan mampu bertahan hidup sampai sekarang.

Kisah ini diceritakan oleh Dr. Santi Gultom, selaku koordinator penyintas dari "YAYASAN KANKER PAYUDARA INDONESIA" YKPI, Senin, 13/11/2017, saat menghadiri di sebuah acara seminar yang bertemakan Cerdas Menyikapi Herbal Untuk Terapi Kanker di Gedung BPOM, Jakarta Pusat.

Baca artikel sebelumnya : Linda Gumelar Yakin Indonesia bisa Bebas Kanker Payudara 2030

Demikian informasi bermanfaat tentang Berita Seputar Kanker Payudara yang wajib wanita-wanita Indonesia menyimaknya dengan baik. Pencegahan sejak dini adalah jalan yang benar dan terbaik untuk anda. Terima kasih banyak...

Sumber : liputan6.com

Tidak ada komentar