Info News

Pengertian Tentang Kanker Ovarium

Kanker Ovarium - Gejala, penyebab dan menangani - Alodokter, Kista Ovarium - Gejala, penyebab dan mengobati - Alodokter, Kanker ovarium - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Penjelasan Tentang Kanker Ovarium - Kanker ovarium adalah sebuah kanker yang tumbuh pada indung telur (ovarium). Penyakit jenis ini menduduki posisi ke tujuh diantara jenis-jenis penyakit kanker yang paling umum menyerang kaum wanita. Setiap tahunnya, ada sekitar 250 ribu kasus kanker ovarium diseluruh dunia yang menyebabkan 140 ribu kematian per tahun.

Kanker ini bisa muncul pada segala kelompok usia, tetapi umumnya terjadi pada kaum wanita yang sudah memasuki massa menopause atau usia wanita yang sudah menginjak 50 tahun ke atas.

Jenis-jenis Kanker Ovarium
Kanker ovarium dikelompokan menjadi 3 jenis yang berdasarkan lokasi awal perkembangan kanker, seperti:

  • Tumor epitelial, sel kanker  yang muncul pada jaringan pembungkus ovarium. Hal ini merupakan jenis penyakit kanker ovarium yang paling banyak sekali terjadi.
  • Tumor stromal, jenis kanker yang muncul pada lapisan dimana terletak sel-sel penghasil hormon. Jenis kanker yang satu ini termasuk jarang sekali. Hanya sekitar 7 diantara 100 kasus kanker ovarium yang merupakan jenis ini.
  • Tumor sel germinal, jenis kanker yang berkembang pada sel-sel penghasil telur. Jenis penyakit kanker ovarium ini lebih cenderung terjadi pada kaum wanita yang berusia muda.


Gejala Kanker Ovarium

Kanker ovarium jarang sekali menimbulkan gejala atau tanda pada stadium awal. Kalaupun ada, tanda atau gejalanya menyerupai konstipasi atau gejala pada iritasi usus. Oleh karena itu, kanker ovarium biasanya baru terdeteksi saat kanker sudah menyebar luas didalam tubuh. Beberapa gejala yang umumnya dialami oleh si penderita kanker ovarium ialah:

  • Perut selalu merasa kembung.
  • Sakit perut.
  • Pembengkakan pada perut.
  • Mual.
  • Cepat kenyang.
  • Frekuensi buang air kecil yang meningkat.
  • Perubahan pada kebiasaan buang air besar, contohnya konstipasi (sulit buang air besar).
  • Sakit saat berhubungan intim.


Penyebab dan Faktor Resiko Kanker Ovarium

Sama halnya seperti kanker-kanker pada umumnya, faktor penyebab kanker ovarium ini juga belum diketahui dengan secara pasti. Ada beberapa faktor-faktor yang diduga bisa meningkatkan resiko seorang wanita terkena kanker ovarium ini. Dan faktor-faktor tersebut ialah:

  • Usia. Kanker ovarium lebih cenderung terjadi pada seorang wanita yang berusia 50 tahun keatas.
  • Genetik. Resiko untuk terkena penyakit kanker ovarium akan meningkat apabila memiliki anggota keluarga yang telah/pernah mengidap kanker ovarium atau kanker payudara. Begitu juga pada wanita yang mempunyai gen BRCA1 dan BRCA2, yang mana merupakan mutasi genetic yang bisa diturunkan.
  • Terapi pengganti hormon estrogen atau Esterogen Hormone Replacement Therapy, yang terutama jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan dengan dosisi yang amat tinggi.
  • Menderita sindrom ovarium polikistik (PCOS).
  • Mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Tidak pernah hamil.
  • Mengalami siklus menstruasi sebelum umu 12 tahun dan menopause setelah umur 50 tahun.
  • Merokok.
  • Menjalani terapi kesuburan.
  • Menggunakan alat kontrasepsi IUD.


Diagnosis Kanker Ovarium


  • Diagnosis awal dibuat berdasarkan gejala-gejala yang dialami, riwayat kesehatan keluarga serta hasil pemeriksaan fisik. Kemudian pemeriksaan penunjang dilakukan guna menegakkan diagnosa, meliputi USG, pemeriksaan darah atau juga biopsi.
  • Pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang dilakukan buat memeriksa perut dibagian bawah dan organ reproduksi. Pada pemeriksaan ini bisa diketahui bentuk, ukuran serta struktur ovarium.
  • Pemeriksaan darah yang dilakukan guna mendeteksi keberadaan protein CA 125 dalam darah. Kadar CA 125 yang cukup tinggi bisa mengindikasikan kanker ovarium. Namun tes ini tak bisa dijadikan sebagai patokan tunggal, sebab CA 125 ini bukanlah tes yang spesifik, kadarnya bisa meningkat pada kondisi lain yang bukan kanker, serta tidak semuanya penderita kanker ovarium mengalami peningkatan kadar CA 125 dalam darah.


Stadium Kanker Ovarium
Jika hasil pemeriksaan telah menunjukkan seseorang positif menderita kanker ovarium, maka langkah berikutnya yang harus dilakukan ialah menentukan tingkat penyebaran kanker. Dalam menentukan tingkat penyebaran dari kanker ovarium, pemeriksaan bisa dilakukan dengan MRI Scan atau CT, rontgen dada, atau pemeriksaan sampel cairan rongga perut dan juga jaringan ovarium.

Mengetahui tingkat penyebaran kanker yang diderita akan membantu sang dokter untuk menentukan langkah pengobatan yang terbaik bagi penderita. Secara umumnya, tingkat penyebaran kanker ovarium ini terbagi kedalam empat stadium, yakni:

  • Stadium 1. Kanker hanya menyerang salah satu atau kedua ovarium, tetapi belum menyebar ke organ lain.
  • Stadium 2. Kanker sudah menyebar dari ovarium hingga ke jaringan disekitar panggul atau rahim.
  • Stadium 3. Kanker sudah menyebar ke selaput perut, permukaan usus dan juga kelenjar getah bening di panggul atau perut.
  • Stadium 4. Kanker sudah menyebar sampai kebagian lain tubuh, misalnya saka ginjal, hati dan juga paru-paru.


Pengobatan Kanker Ovarium

Penanganan kanker ovarium ini bisa berbeda-beda pada setiap kasusnya, ditentukan dengan berdasarkan stadium kanker, kondisi kesehatan serta keinginan si penderita untuk memiliki keturunan. Penanganan utama kanker ovarium ialah melalui operasi dan juga kemoterapi atau radioterapi.

Operasi
Prosedur operasi itu biasanya meliputi pengangkatan kedua ovarium, rahim, tuba falopi serta omentum (jaringan lemak dalam perut). Operasi ini bisa juga melibatkan pengangkatan kelenjar getah bening pada panggul dan juga rongga perut untuk mencegah serta mencari tahu jika ada penyebaran kanker. Dengan pengangkatan kedua ovarium dan rahim ini, penderita tidak lagi bisa memiliki keturunan.

Tetapi lain halnya dengan kanker ovarium yang telah terdeteksi pada stadium dini. Penderitanya mungkin hanya akan menjalani operasi pengangkatan salah satu ovarium dan tuba falopi, sehingga kemungkiinan besar untuk memiliki keturunan masih ada.

Kemoterapi
Kemoterapi bisa dijadwalkan setelah operasi. Hal ini dilakukan guna membunuh sel-sel kanker yang masih tersisa. Selama menjalani kemoterapi, dokter akan memantau perkembangan si penderita secara rutin untuk memastikan keefektifan obat dan juga respons tubuh terhadap obat.

Kemoterapi juga bisa diberikan sebelum operasi pada si penderita kanker ovarium stadium lanjut, dengan tujuan untuk mengecilkan tumor sehingga akan memudahkan prosedur pengangkatan. Tiap pengobatan beresiko menimbulkan efek samping, begitu juga dengan kemoterapi. Beberapa efek samping yang akan mungkin terjadi setelah melakukan proses kemoterapi diantaranya ialah muntah, tidak nafsu makan, lemas, rambut rontok dan meningkatnya resiko infeksi.

Radioterapi
Di samping operasi dan juga kemoterapi, radioterapi juga merupakan tindakan lain yang bisa menjadi jalan alternatif. Dalam radioterapi, sel-sel kanker dibunuh dengan menggunakan radiasi dari sinar X. Sama seperti kemoterapi, radioterapi bisa diberikan, baik itu setelah maupun sebelum operasi. Efek sampingnya pun juga serupa dengan kemoterapi, terutama terjadinya kerontokan rambut.

Pencegahan Kanker Ovarium

Karena penyebabnya belum diketahui, pencegahan kanker ovarium ini tidak bisa dilakukan dengan secara pasti. Tetapi ada beberapa hal yang masih bisa menurunkan resiko seseorang untuk terkena kanker ini. Langkah-langkah tersebut itu meliputi:

  • Memakai kontrasepsi dalam bentuk pil selama lebih 10 tahun. Langkah seperti ini terbukti bisa mengurangi resiko kanker ovarium sampai separuhnya.
  • Menjalani kehamilan dan menyusui.
  • Menerapkan pola hidup sehat supaya terhindar dari obesitas, contohnya yaitu berolahraga secara teratur dan meningkatkan konsumsi serat, seperti sayur dan buah-buahan.


Pada seorang wanita yang mempunyai resiko tinggi terkena kanker ovarium, operasi pengangkatan ovarium dan tuba falopi sebelum terkena kanker juga bisa dilakukan untuk meminimalisasi resiko. Prosedur seperti ini biasanya dianjurkan untuk usia 35 sampai 40 tahun, bagi mereka yang sudah memutuskan untuk tidak mempunyai keturunan lagi.

Nah, itulah Penjelasan Tentang Kanker Ovarium tersebut ini. Semoga anda bisa memahami isi dari artikel yang sudah kami buatkan khusus untuk para pengunjung setia. Terima kasih banyak dan jangaan lupa untuk baca artikel lainnya ya...

Tidak ada komentar